FOTO BERSAMA MENWA UPY DAN PRESMA UPY SAAT HARDIKNAS
Rabu, 02 Maret 2016
Rabu, 24 Februari 2016
Cerpen/ Ada Hikmah Di Balik Kemah (Eling Sabdo Gusti)
Ada
Hikmah Di Balik Kemah
Namaku Alif Abdilah dan biasa di
panggil Alif oleh teman-temanku. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana,
orang tuaku hanya seorang petani. Aku anak tunggal yang semua keinginanku harus
terpenuhi. Selepas ujian SMP akhirnya aku dinyatakan lulus. Setelah lulus aku
berencana masuk SMA favorit dan letaknya cukup jauh dari rumah yaitu sekitar 2
jam. Awalnya kedua orangtuaku tidak setuju aku sekolah di SMA itu.
“ Le, kamu sekolah di dekat-dekat sini saja
ya,” kata ibuku.
Dengan tegas aku menjawab “harusnya
ibu bangga punya anak yang bisa sekolah di tempat favorit, bukan malah menyuruh
anaknya untuk sekolah di sekolah swasta yang muridnya sedikit”.
Iya le, ibu sangat tau apa yang
kamu inginkan, ibu juga bangga jika kamu bisa masuk SMA favorit, tapi. Tapi apa
bu ? aku memotong pembicaraan ibuku. “ibu dan bapakmu kan sudah tua, apa tidak
sebaiknya kamu tetap sekolah disini. Lagi pula kamu kan belum pernah jauh dari
kami”, sambungnya.
”Kalau aku bisa sekolah di tempat
favorit aku pasti bisa sukses dan bisa ganti uang yang ibu keluarin buat
sekolahku”. Kataku.
Dengan lemah lembut ibu menjawab “ibu tidak
mempermasalahkan tentang biaya le, ibu dan bapakmu kan masih bisa bekerja tapi
ibu hanya ingin kamu tetap di rumah, kamu adalah anak satu-satunya ibu kalau
bukan kamu yang dirumah nemenin kita terus siapa lagi.
Aku kan pergi sekolah bu, lagian
seminggu sekali kan bisa pulang, dengan kesal aku langsung masuk kamar”.
Terlihat wajah ibuku yang kecewa
bercampur sedih ketika mengetahui aku tetap bersikukuh untuk sekolah di kota.
“Ibu dan bapakmu tidak bisa
berbuat apa-apa le, selain mendukungmu dan mendoakanmu agar kamu jadi anak yang
berguna nantinya, kata ibuku”.
Mendengar pernyataan ibu aku
langsung bergegas ke kamar untuk menyiapkan persyaratan untuk mendaftar di SMA
favorit. Aku yakin jika aku pasti di terima karena pada dasarnya aku siswa yang
cukup pandai dan selalu dapat peringkat 3 besar. Ketika malam tiba, persyaratan
yang akan di bawa ke SMA sudah siap dan tinggal menunggu besok pagi.
Tok..tok..tok.. ibu mengetuk
pintu kamarku “ sudah pagi le ayo cepat bangun sholat shubuh dulu lalu
siap-siap katanya mau mendaftar sekarang”.
Karena aku baru sadar kalau aku
mau ke SMA aku langsung buru-buru mandi dan tidak sholat shubuh, walaupun orang
tuaku taat beribadah tetapi aku jarang-jarang sholat. Aku sholat kalau disuruh
ibu atau bapak, itu aja tidak selalu aku hiraukan terkadang aku hanya menjawab
iya tanpa melaksanakannya. Setelah mandi aku sarapan pagi bersama orang tuaku.
“ kamu mau berangkat sama siapa le?, kata
bapak”. Berangkat sama hendri pak, hendri juga mau mendaftar disana katanya.
Hendri adalah teman dekatku ketika SMP, dia adalah anak orang kaya di desaku.
“syukur lah kalau kamu ada temannya, pesan
bapak kamu hati-hati dijalan kamu kan jarang pergi ke kota”. Iya pak.
Setelah selesai sarapan lalu aku berpamitan
dan langsung berangkat karena hendri sudah menungguku di depan rumah.
Sesampainya di parkiran sekolah
kami kebingungan, ya maklum saja kami kan anak baru jadi belum tau tempat
pendaftarannya lagi pula sekolahnya juga besar tidak seperti SMPku dulu. Tidak
lama kemudian ada pak satpam lewat.
“Pak..pak.. aku memanggil.
Iya de, ada apa?
Tempat pendaftaran siswa baru
dimana ya?
Di ruang A dekat Lab Kimia, ade
lurus saja nanti belok kanan, kata pak satpam.
Terimakasih pak
Dengan langkah percaya diri kami
menuju ruang pendaftaran. Lalu kami langsung menyerahkan berkas-berkasnya,
syarat di terima di sekolah ini salah satunya adalah dengan nilai rapot. Saya
semakin percaya diri untuk di terima disini, tetapi hendri agak pesimis, hendri
adalah murid yang biasa-biasa saja ketika di SMP tidak terlalu pintar juga
tidak terlalu bodoh tetapi karena orang tuanya yang kaya mengharuskan hendri
untuk sekolah di SMA favorit. Setelah menyerahkan berkas-berkas dan mengisi
formulir pendaftaran kami tidak langsung pulang, kami keliling sekolah dulu.
Suasana sekolah sangat sepi karena kebetulan memang libur panjang setelah UKK,
di sekolah hanya ada beberapa guru dan siswa yang menjadi panitia pendaftaran
siswa baru. Setelah kami puas keliling sekolah kami berniat untuk langsung
pulang.
Ketika pulang tiba-tiba di tengah
perjalanan hendri mengajakku mampir ke warung untuk makan siang. Aku langsung
mengiyakan saja karena kebetulan perutku juga sudah lapar sekali. Makan saja
sepuasmu nanti aku yang bayar, ujar hendri. Beneran nih hen kamu yang mau bayar
semuanya. Iya beneran lah, kan aku yang ngajak kamu kesini,. Sering-sering aja
kamu nraktir aku hen, byar uang jajanku utuh, dalam hatiku berkata. Tak terasa
waktu sudah semakin sore. “ayo hen kita pulang udah sore nih, bisa-bisa sampai
rumah kemaleman”, kataku.
Allahu akbar Allahu akbar, adzan
magrib pun sudah berkumandang tetapi aku belum sampai rumah. Di saat yang
bersamaan ibu sedang gelisah menungguku, tidak biasanya aku belum pulang,
pikirnya. Tidak lama kemudian aku sampai rumah.
“Kamu darimana saja le, kok jam
segini baru sampai rumah ibu dari tadi menunggumu”.
“Ya dari sekolah lah bu, kan aku
habis daftar, udah lah bu aku mau mandi terus istirahat aku capek”, kataku.
“Ya sudah sana le, nanti jangan
lupa sholat magrib terus makan ya ibu sudah siapkan makanan buat kamu, kamu
pasti laper”.
“Aku sudah kenyang bu, sambil
masuk rumah”.
“Tapi ibu sudah masak makanan
kesukaanmu le”.
Dengan suara meninggi aku menjawab, “aku sudah
kenyang bu, aku juga capek mau istirahat”.
“ Sudahlah bu, kalau memang tidak
mau makan ya jangan di paksa yang penting ibu kan sudah menyuruhnya, ujar bapak
sambil mengajak ibu masuk ke dalam rumah”.
Setelah satu minggu menunggu,
akhirnya hari ini tiba waktunya pengumuman penerimaan siswa baru. Seperti biasa
ibu selalu membangunkanku dan menyiapkan sarapan pagi untukku. Setelah aku
selesai sarapan ternyata hendri belum juga datang menjemputku. Padahal kemarin
sudah sepakat untuk berangkat bareng seperti waktu pendaftaran satu minggu
silam. Tiba-tiba ibu datang dan menanyakan kenapa aku belum berangkat.
“le kenapa kamu belum berangkat”.
Dengan cetus aku menjawab “hendri
aja belum kesini, gimana aku mau berangkat. Makannya aku belikan motor biar
bisa ke sekolah sendiri”.
“kamu belum jadi masuk sekolah
aja udah minta ini itu, gimana besok kalau udah sekolah”. kata bapak dari dalam
rumah ketika mendengar percakapanku dengan ibu.
Tidak lama kemudian hendri datang
dan kami langsung berangkat tanpa berpamitan dengan ibu dan bapak.
“lihat bu kelakuan anak kita,
semakin besar bukannya semakin hormat sama kita malah justru semakin
membangkang saja”.
Dengan lembut ibu menjawab “yang sabar pak,
kita doakan saja supaya anak kita diterima dan kelak bisa menjadi orang yang
berguna”.
Ketika di jalan aku menanyakan ke
hendri kenapa tadi telat menjemputku.
“Kamu tadi kemana aja hen, kok
lama datangnya biasanya kan on time, tanyaku ketika di jalan.
“Sorry lif, aku tadi bangun
kesiangan gara-gara semalam main ps”.
“ Oh gitu, aku udah pengin
cepet-cepet sekolah di SMA nih, bt dirumah terus nggak ada kegiatan nggak ada
temen juga”.
Sepanjang jalan banyak hal yang aku bicarakan
dengan hendri dan tidak terasa kami sudah sampai di sekolah. dengan perasaan
deg-degan kami langsung menuju ruang kelas untuk mengetahui apakah kami
diterima atau tidak. Setelah di dalam kelas kami di panggil satu persatu untuk
mengambil amplop, ketika namaku dipanggil aku langsung mengambil dan membuka
amplopnya dan ternyata aku di terima. Rasa deg-degan pun berubah menjadi rasa
senang dan bahagia. Akhira aku bisa sekolah di SMA favorit dimana sekolah ini
sudah aku idam-idamkan dari dulu, selain siswanya yang pintar-pintar juga
cantik-cantik. Pikirku dalam hati. Tak lama kemudian hendri juga dipanggil dan
ternyata hendri juga di terima.
“Syukur lah kalau kamu diterima,
jadi kan aku ada temennya dari rumah. Kataku”.
Seperti waktu itu, hendri tidak
langsung mengajak pulang, tapi hendri mengajakku jalan-jalan keliling kota dan menraktirku makan-makan. Mungkin hendri
tidak menyangka karena dengan nilainya yang pas-pasan bisa di terima di sekolah
favorit yang mayoritas siswanya pintar-pintar. Tapi tak masalah buatku yang
terpenting hari ini aku bisa senang-senang.
Tak kusadari ternyata waktu sudah
hampir magrib dan aku belum pulang, pasti nanti sampai rumah ibu banyak
tanya.pikirku dalam hati.
“Kalau pulang malam memangmya
kamu nggak di marahi sama orangtuamu hen, kataku.
“Ibu dan bapakku jarang di rumah
dia sibuk dengan urusannya masing-masing”.
“ Ya sudah kalau gitu kita pulang
aja ya, nanti kalau kemalaman jalannya juga semakin sepi”.
Ketika di perjalanan ternyata
motor hendri bannya bocor dan karena waktunya sholat magrib jadi tidak ada
bengkel yang buka. Bukannya kami mencari masjid untuk sholat magrib justru kami
memutuskan untuk jalan kaki sambil mendorong motor dan mencari bengkel yang
buka. Setelah 30 menit mendorong motor ternyata masih ada bengkel yang buka.
“Untung aja masih ada bengkel
yang buka ya lif”, kata hendri.
“ Iya hen, coba kalau tidak
bisa-bisa kita dorong sampai rumah, kan nggak lucu”.
“ Kenapa dek motornya, ada yang
bisa di bantu”.
“ Ini pak bannya bocor tolong di
tambal ya, kata hendri”.
“Iya dek, memangnya kalian
darimana kok masih pakai seragam sekolah, sambungnya. Kami dari sekolah pak,
melihat pengumuman penerimaan siswa baru”.
“ Tapi kenapa sampai jam segini
baru pulang”.
“ Tadi kami jalan-jalan dulu pak
mumpung di kota”.
“Dasar anak jaman sekarang,
memangnya kalian tidak kasian sama orang tua kalian, mereka pasti khawatir
nunggu kalian belum pulang.
“Sebelum berangkat kami sudah
ijin mau pulang telat kok pak”.
“ Bapak tukang bengkelnya hanya
menggeleng-gelengkan kepala”.
Setelah motornya jadi kami
langsung cepat-cepat pulang. Sesampainya di rumah ternyata ibu dan bapak sudah
menungguku di depan rumah.
“Darimana saja kamu jam segini
baru pulang”, kata bapaku dengan suara agak keras.
“Tadi ban motor hendri bocor
makannya pulangnnya jadi kemalaman”, kataku sambil menyerahkan amplop yang tadi
siang di bagikan di sekolah.
“Apa ini le? Kata ibuku”.
“ Di buka saja bu, aku mau madi
terus istirahat”.
Ketika aku masuk ke dalam rumah, ibu dan
bapakku membuka amplop. “Alhamdulillah anak kita diterima pak. “Iya bu tapi bagaimana masalah biaya”. Itu di
pikirkan besok saja pak.
Masa MOS sudah aku lalui, pembelajaran
pun sudah di mulai. Dan aku baru tau ternyata di sekolahku yang baru ini
ekstrakulikuler pramuka di wajibkan. Jelas ini membuatku kaget, karena dari
dulu aku tidak menyukai pramuka. Bahkan ketika aku di SMP aku tidak mau
mengikuti kegiatan pramuka.
Ekstrakulikuler pramuka di adakan
setiap hari jum’at siang, rasanya malas sekali mau berangkat. Bagiku lebih baik
menghabiskan waktu untuk main atau tidur daripada menghabiskan waktu untuk
kegiatan pramuka yang kebanyakan hanya tepuk-tepuk. Ketika aku pertama kali
mengikuti kegiatan pramuka aku berangkatnya telat, dan sialnya aku kena marah
dewan ambalan (DA). Dengan suara lantang tiba – tiba ada kakak dewan yang
menyuruhku untuk lari
“ dek lari dek, baru pertama berangkat udah
telat.”.
Dalam hati aku merasa kesal
sekali rasanya pengin marah, masa aku di suruh-suruh lari kalau tau mau kaya
gini tadi nggak usah berangkat “pikirku dalam hati’. Setelah aku menaruh tas di
kelas ada suara peluit tanda apel segera di mulai. Ketika apel berlangsung semua
peserta rapih dan tertib tidak ada yang bersuara karena jika dari kami ada yang
tidak tertib kakak dewan langsung menegur kami. Setelah apel berlangsung
sekarang saatnya untuk periksa kerapihan dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Dan ya ampun, lagi-lagi aku kena marah, ternyata aku banyak melanggar dari
sepatu, kaos kaki, ikat pinggang, kuku dan rambut. Karena hari ini baru pertama
kali kegiatan jadi aku hanya di hukum 20 kali push up, tapi rasanya sudah malas
sekali. Dan hari ini hanya perkenalah pramuka di sekolahku saja.
Hari sabtu adalah hari yang aku
tunggu-tunggu, aku ingin segera pulang. Bukan karena ingin bertemu ibu atau
bapak tapi karena uang sakuku sudah mau habis. Setelah pulang sekolah aku
langsung cepat-cepat pulang ke rumah, sesampainya di rumah ternyata bapakku
sedang sakit.
“Alhamdulillah le, kamu pulang
juga gimana betah nggak di kos dan sekolah barumu”.kata ibuku.
“Ya jelas betah lah bu, orang
disana sudah jadi pilihanku”. Jawabku.
“syukur le kalau kamu betah disana kamu sudah
makan apa belum tapi ibu cuma masak nasi sama tempe, bapakmu sekarang
sakit-sakitan dan jarang pergi ke sawah, ibu juga harus merawat bapakmu di
rumah”.
“Bukannya aku kasihan malah
semakin membentak “ kalau ibu sama bapak tidak bekerja terus bagaimana
sekolahku bu”.
Dengan sabarnya ibu menjawab “
kamu tidak usah khawatir le, ibu pasti bekerja setelah bapakmu benar-benar
sembuh, kamu tidak usah memikirkan biaya sekolah yang terpenting kamu belajar
supaya pintar”.
“ya sudah aku mau istirahat”. Jawabku singkat
lalu aku masuk kamar.
Minggu sore aku bersiap-siap
untuk berangkat ke kos-kosan.
“bu aku mau berangkat, mana uang
sakunya”.kataku.
“ibu minta tolong sebentar ya le,
tolong belikan obat buat bapakmu”.
“ini sudah sore bu, aku harus cepat-cepat
berangkat lagi pula hendri sudah menungguku di depan”.
“Ya sudah kalau kamu tidak bisa,
nanti ibu yang belikan obat buat bapakmu, ini uang buat kamu selama seminggu”
dengan mengacungkan uang 1 lembar berwarna biru atau 50.000.
“ kalau Cuma segini kurang bu.
Tapi ibu sudah tidak punya uang lagi le”.
“ Pokoknya aku minta 200.000
sekarang juga”.
“Ibu dapat uang dari mana le”.
“ Aku tidak mau tau bu”,
“ ya sudah le kamu tunggu
sebentar ibu mau pinjam uang ke ibu defi”.
Ibu defi adalah tetanggaku
sekaligus orang yang paling kaya di desaku. Tidak lama kemudian ibu membawa
uang 150.000 lalu di kasik ke aku.
“ Ya sudah aku mau berangkat ini
sudah sore”, aku berangkat tanpa mencium tangan ibu bahkan mengucap salam pun
tidak.
Semakin hari aku semakin tidak
ingin pulang, bahkan sampai berminggu-minggu bahkan bernulan-bulan aku tidak
pulang. Namun sebelum berangkat aku harus meminta uang saku lebih banyak dari
sebelum-sebelumnya.
Hari-hariku aku habiskan di
sekolah dan di kos-kosan, kegiatan pramuka adalah Satu-satunya kegiatan di luar
pelajaran biasa. Kalau tidak wajib mungkin aku tidak mengikutinya. Setelah
sekian minggu melakukan kegiatan pramuka di dalam sekolah, dan sebentar lagi
akan diadakan kemah di luar sekolah. Aku di utus untuk menjadi ketua sanggaku,
awalnya aku tidak mau tetapi karena paksaan dari teman-teman akhirnya aku
menyetujuinya. Mulai dari menyiapkan perlengkapan, yel-yel, pentas seni dll.
Aku yang selalu mengkoordinir teman-teman kelompokku. Setelah hari H aku
semangat sekali mungkin karena persiapan sudah benar-benar matang, kami
berangkat dari sekolah sekitar jam 10 pagi dan sampai di lokasi jam setengah 1
siang. Sesampainya di bumi perkemahan tempat ambalan kami berkemah kami
langsung menuju masjid untuk sholat dzuhur berjamaah. Rasanya asing sekali
buatku, mungkin karena aku jarang sholat. Selesai sholat dzuhur ternyata ada
ceramah dan di jelaskan bahwa “Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah
kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baik kalian kepada
kedua orangtua”. (An-Nisa’: 36)
Upacara pembukaan di mulai, dan
aku masih memikirkan apa yang tadi di sampaikan pak ustadz. Setelah selesai
upacara kami bersiap-siap untuk mendirikan tenda. Setelah tenda sudah jadi
berbagai kegiatan pun di mulai. Dan setiap menjelang waktu sholat ketua sangga
harus mengajak anggotanya untuk ke masjid, awalnya aku ragu-ragu untuk mengajak
teman-temanku karena aku sendiri jarang sholat tapi malah menyuruh orang lain
namun karena sudah menjadi tugasku aku memberanikan diri untuk mengajak temanku
ke masjid.
Hingga tidak terasa waktu sudah
larut malam, kami mulai kelelahan karena kegiatan dari siang sampai malam tadi.
Kami pun di suruh istirahat karena besok masih banyak kegiatan. Baru saja
memejamkan mata kakak dewan sudah membangunkan kami untuk renungan malam,
dengan mata mengantuk aku tetap bangun. Katika renungan malam tidak terasa air
mataku menetes, aku tersadar bahwa selama ini aku sudah menjadi anak yang
durhaka tidak berbakti kepada orang tua. Rasanya aku ingin lari memeluk ibu dan
bapak sambil minta maaf.
Kini aku sadar bahwa pramuka yang
selama ini aku kenal hanya tepuk-tepuk saja ternyata salah besar. Pramuka
adalah sesuatu yang sangat luar biasa, pramuka mempunyai dasa darma yang
benar-benar harus diamalkan dan di mulai dari poin yang pertama bahwa pramuka
harus bersikap cinta dan kasih sayang, setia, patuh adil dan suci. Melaksanakan
ibadah, memperingati hari-hari besar,menghormati agama lain, mengikuti ceramah
keagamaan dan yang paling penting sebagai seorang anak harus berbakti kepada
orang tua.
Ada banyak hal yang aku dapatkan
di perkemahn ini, sepulangnya dari kemah aku akan lagsung pulang ke rumah untuk
meminta maaf kepada ibu dan bapak.
“Assalamualaikum”, kataku sambil
mengetuk pintu rumah,
“ waalaikumsalam le, kamu sudah
pulang, kenapa selama ini jarang pulang. Ibu dan bapakmu mengkhawatirkanmu.
“Maaf bu, aku salah selam ini
sudah sering kali menyakiti hati ibu dan bpakm, aku minta maaf yang
setulus-tulusnya aku berjanji untuk menjadi anak yang berbakti kepada ibu dan
bapak”.
“ Kamu kenapa le, ibu tidak
apa-apa, sudah seharusnya ibu memenuhi segala kebutuhanmu. “Tidak bu, aku sudah
sering menyakiti hati ibu dan bapak”.
Rasanya ketika aku meminta maaf
kepada orang tuaku hati menjadi nyaman, dan kini aku benar-benar sudah mulai
mencintai pramuka. Bulan demi bulan aku lalui hingga ujian kenaikan kelas pun
sudah berlalu kini saatnya memasuki bulan yang suci dan bulan yang penugh
ampunan. Aku punya banyak harapan, aku akan selalu taat beribadah dan selalu
membahagiakan orang tua. Kini setelah aku sadar hidupku lebih bahagia, bukan
karena uang banyak tetapi karena kebersamaan bersama keluarga. Akhirnya aku
bisa menikmati buka dan sahur bersama keluargaku tercinta. Akulah satu-satunya
harapan mereka. Dan yang terpenting aku akan tetap melanjutkan pramuka karena
di dalam pramuka aku mendapat banyak pelajaran yang sangat berharga.
Diana (Oleh Nur Ihsani Rahmawati)
Diana
(Oleh Nur Ihsani
Rahmawati)
Diana
adalah seorang gadis yang hidup sederhana bersama kedua kakaknya. Kedua orang
tua Diana sedang bekerja di luar pulau Jawa, jauh dari tempat tinggal Diana.
Diana termasuk dalam orang yang berkecukupan. Kedua kakaknya duduk di bangku
kuliah. Diana sekarang baru menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama atau
sering disingkat SMP. Ia sekolah di salah satu SMP favorite di daerah tempat
tinggalnya.
Kakak pertamanya bernama Dieno,
seorang laki-laki berparas tampan yang sangat disayangi Diana. Dieno lahir dua
tahun sebelum Nino, kakak keduanya. Mereka berparas tampan, bermata bulat,
berbulu mata lentik, dan beralis tebal seperti ulat bulu. Sama seperti Ibu
mereka, Dieno, Nino, dan Diana berbadan tinggi, berkulit putih dan agak gemuk.
Terturun dari Ayah mereka.
“Kak, punya uang nggak? Aku pinjem
dulu ya?” tanya Diana esok hari di meja makan saat mereka sarapan dengan muka
memelas.
“Kak Nino nggak punya. Uang kakak
udah dipinjam temen kakak yang setiap malam minggu kesini itu lho. Soalnya,
orang tuanya lagi cerai dan dia nggak keurus. Maaf ya dek” jelas Nino pada
adiknya itu.
“Berapa? Aku adanya cuman seratus
ribu.” potong Dieno setelah Diana memohon padanya.
“ Nggak papa kok Kak, aku Cuma mau
pinjem limapuluh aja.”
Dieno merogoh saku celana jeansnya
yang berwarna biru dongker itu. Dengan muka yang sedikit berbinar, Diana
menerimanya.
“Kerimakasih ya Kak. Aku berangkat
bareng kamu lho. Kak Nino kuliah jam berapa?” tengok Diana setelah ia
mengucapkan terimakasih.
“Nanti siang.”
“Yaudah yuk kak Dien. Ntar aku telat
lagi” ajak diana sambil menengok jam tangan pink kesayangannya dan memakai tas
pinknya. Diana memang sangat suka dengan warna pink. Entah apa yang membuatnya
suka. Tetapi Diana tidak bersifat kekanak-kanakan yang berbalik sekali dengan
lambang warna yang disukainya itu. Hanya saja, Diana percaya sekali dengan
ramalan bintang.
Dienopun menuju garasi untuk
mengambil kendaraan yang akan ditungganginya dan adiknya. Diana menuju depan
rumah untuk menunggu kakaknya. Setiap hari, Diana selalu canggung dan tidak percaya
diri untuk bersekolah. Diana merasa, Dia seperti serba salah jika di sekolah
karena masalah yang pernah menimpanya.
“Eh iya. Aku ada sms nih.”
Leo,
ramalan bintang minggu ini, kamu harus hati-hati dengan apapun yang kamu
lakukan. Tetap percaya diri dengan apapun kesalahan kamu. Perbaiki aja
kesalahan yang kamu perbuat. Jangan dipikirin apapun masalah kamu. Hadapi sajalah.
Semoga harimu menyenangkan.
“Yuk brangkat. Hati-hati nyetir
motornya lho Kak. Aku nggak suka keburu-buru” omel Diana pada kakaknya setelah
ia membacakan sms ramalan bintang itu.
“Iya-iya, Putri aneh,” ejek Dieno.
Itulah kebersamaan Diana dengan
kakaknya. Diana paling akrab bersama Dieno yang sering dipanggil Dien olah
Diana. Mereka akrab karena sering hangout
bareng. Di sekolah, mereka sama-sama tidak terlalu disegani olah
teman-temannya. Labih tepatnya, menjauh. Karena mereka pernah melakukan sebuah
kesalahan yang membuat mereka jadi kurang percaya diri untuk bergaul. Itulah
yang membuat mereka akrab. Senasib. Berbeda dengan Nino. Nino senang
berorganisasi di kampusnya sehingga membuat Nino banyak teman. Bahkan teman
Ninopun banyak juga yang bukan sekampus.
“Makasih kakak. Assalamualaikum.
Nanti biar Kak Nino yang jemput,” ucap Diana sambil berjabat tangan dengan
kakaknya itu. Diana berlalu meninggalkan kakaknya dan masuk ke kelas.
Di kelas, Diana duduk seperti biasa.
Diana biasa duduk dibangku pojok tempatnya. Diana hanya pindah, ketika salah
satu temannya menduduki bangkunya terlebih dahulu sebelum Diana. Diana duduk
bersama temannya bernama Vida. Vida adalah satu-satunya teman yang selalu bersamanya.
Vida selalu setia karena mereka senasib. Mereka tidak teralu disegani
dikelasnya.
Salah satu kelemahan Diana adalah
malas. Pagi ini Diana belum mengerjakan PR dan ia mengerjakannya di sekolah.
Apa lagi mata pelajaran ini adalah jam pertama. Ditambah, ini adalah mata
pelajaran yang sangat Diana tidak suka, yaitu sejarah. Anehnya, Diana selalu
mengerti jika dijelaskan oleh guru mereka. Diana sangat tidak suka dengan mata
pelajaran ini karena ia selalu salah dimata guru. Oleh karena keanehan
tersebut, Diana selalu memperolah nilai yang cukup baik saat ulangan. Diana
sangat tidak suka dengan sejarah juga karena ia selalu tidak dimengerti.
Ditambah jika saat guru menjelaskan, guru selalu bertempat berbalik arah yang
menyebabkan Diana tidak kelihatan catatan guru dipapantulis. Sebenarnya, Diana
suka dengan mata pelajaran ini. Namun, Diana selalu dibuat kesal dan emosi
sesaat.
Guru sejarah adalah guru yang
termasuk kategori guru paling galak di sekolahnya. Diana juga selalu apes dengan nomer absennya karena
termasuk nomor absen yang disukai guru sejarah yaitu tiga puluh tiga. Yang
merupakan angka terakhir diantara nomor absen teman sekelasnya. Ditambah dengan
ketidakaktifannya dalam pelajaran sejarah. Diana termasuk siswa yang kurang
aktif untuk bertanya saat kegiatan belajar mengajar pelajaran sejarah. Oleh
karena itu guru selalu menunjuk siswa yang kurang aktif saat diberi pertanyaan
yang sulit dan tiada yang mau menjawab selain ditunjuk.
Keberuntungan hari ini adalah, tidak
ada yang ditunjuk saat ada pertanyaan contoh penjelasan asal mula manusia.
Tetapi, ketidakberuntungan Diana, hari ini kelas mereka disuruh membut kelompok
untuk mencari materi di perpustakaan sekolah. Itu adalah moment yang sangat
dibenci Diana. Diana membencinya karena Diana selalu terpilih akhir saat
pembagian. Apalagi jika itu pilihan. Membuat Diana selalu sakit hati dan
bersedih. Diana paling tidak suka itu. Untuk menghindari moment yang
dibencinya, Diana pergi ke perpustakaan terlebih dahulu. Perpustakaan adalah
tempat perenungan Diana. Diana ingat dengan pesan yang ada di SMS ramalan
bintangnya, “jangan dipikirin apapun masalah kamu. Hadapi saja”. Dianapun
mencari buku yang cocok untuk menghindari ketidak sibukannya. Diana suka sekali
dengan Novel. Ditambah dengan Novel yang berbau islami. Dianapun pergi
meninggalkan perpustakaan dan menuju kelas.
Sesampainya dikelas, pembagian
kelompok sudah selesai. Tidak seperti biasanya karena biasanya saat pembagian
kelompok, waktu hanya akan habis untuk berdebat. Diana melihat-lihat dan
mencari namanya. Diana ada di kelompok 3 bersama sepuluh teman lainnya termasuk
Vida.
Teman-teman Diana sudah bersiap-siap
untuk menuju perpustakaan. Satu-satu dari mereka keluar meninggalkan kelas. Diana
juga termasuk dalam kategori tidak aktif jika digabungkan dengan teman-temannya.
Dia lebih suka bekerjaa sendiri karena Dia merasa lebih gesit jika Dia sendiri.
Saat Diana sedang mancari buku, dia
tersengat lebah yang sarangnya kebetulan menempel pada rak buku. Diana tidak
sengaja menjatuhkan tumpukan buyku yang ada diatas rak. Sehingga semua tumpukan
buku yang seharusnya tersusun rapi, berubah mejadi hamparan buku yang tidak
rapi diatas lantai. Sontak secara tidak sengaja, semua orang yang ada di ruang
itu kaget dan menengok ke arah Diana. Penjaga perpustakaan yang kenal baik
dengan Dianapun datang dan mengobati Diana.
“Hidih....Anak manja buat kisruh
lagi nih,” ejek salah satu teman Diana.
Kesukannnya pada warna pink,
membuatnya diejek menjadi anak manja. Padahal, sebenarnya Diana hanya tertarik
pada warna pink karena warna pink dapat menyejukkan hati. Bukan berarti Diana
anak manja. Diana memang orangnya agak lola. Itu adalah salah satu juga
penyebab mengapa Diana selalu diejek Anak manja. Ditambah lagi dengan kesalahan
Diana. Diana selalu melakukan kesalahan yang secara tidak sengaja yang membuat
dia malu dan tidak percaya diri atas kelakuannya. Tangan yang tersengat lebah
sudah diperban dan Diana membereskan semua buku yang berserakan di lantai
dibantu oleh penjaga perpustakaan.
Setelah bel berbunyi untuk ganti
pelajaran, dan mata pelajaran sejarahpun sudah berakhir, mereka kembali ke
kelas mereka dengan hasil materi seadanya.
Disekolah, Diana mengikuti ekstra
kulikuker mading. Kecintaannya pada sastra dan keterampilan, membuatnya ingin
mengikuti ekskul itu. Pulang dari sekolah, Diana membeli peralatan dan bahan
untuk mading minggu depan.
Diana
selalu eksis dalam bidang kesastraan, khususnya cerpen. Hobinya yang selalu
menulis cerpen, membuatnya ingin selalu mengapresiasi dan menyalurkan hobinya
itu dalam majalah dinding sekolahnya. Diana juga yang selalu memberi bahan dan
ide-ide tema untuk mading mereka jika kehabisan ide atau butuh bahan.
Diam-diam, Diana mendaftarkan
dirinya untuk mengikuti lomba cerpen di majalah ternama di Jogja. Ia meminjam
uang kepada kakaknya, untuk biaya pendaftaran. Dan hanya Diana yang tahu soal
rencananya untuk lomba.
Setelah pulang ekskul, Diana
dijemput oleh kakaknya Nino yang kebetulan juga akan berangkat ke kampus.
Setelah sampai di rumah, Diana
berganti baju dan menuju ruang depan. Diana menonton televisi serambi mengobrol
dengan Dieno.
“kak” panggil Diana memulai obrolan.
“he’em” sambil mengemil, Dieno
menanggapi Diana.
“caranya buat PD giamana sih kak?”
tanya Diena dengan sedikit memaksa.
“acuhin aja semua kesalahan kamu
setelah kamu perbaiki dan tidak melakukannya lagi. Acuhin aja kata-kata orang
yang membuat kamu sakit hati dan nggak PD. Well, makan yuk. Ke mana kek gitu.
Kakak lapar nih”
“yuk. Aku siap-siap dulu ya. Tunggu
lho.”
Sambil keluar rumah, Dieno menunggu
Diana di depan rumah. Setelah Diana naik, merekapun melaju dengan kencang
meninggalkan rumah mereka yang sepi.
Setelah sampai dan memesan makanan,
Diana memulai pembicaraan lagi.
“kak, boleh curhat?”
“eh, tadi uang kakak buat apa?”
“buat beli bahan mading. boleh?”
“enggak. Jujur ya, kakak kalo di
kampus itu nggak PD. Bahkan kakak selalu menjauh kalo ada temen yang mau
ngedeket.” Itulah alasan mengapa Dieno jomblo. Selalu menjauh bila ada yang
mendekat.
“seharusnya, kakak itu nggak boleh
kayak gitu. Walaupun nggak PD, paling enggak kan kakak punya temen ato pacar
yang bisa nemenin kakak setiap saat. Kak, PD itu penting lho.”
“kamu. Ngomong aja mah gampang kali.
Kakak tapi nggak bisa. Yaudah, dimakan dulu deh tuh makanannya.”
Merekapun melahap makanan yang
barusan di antar oleh pelayan. Setelah itu, Dieno mengajak Diana pulang.
“Yaudah deh, pulang yuk. Kakak dah
kenyang.”
“oke. Yuk.”
Setelah di pintu keluar, mereka
bertemu Nino. Diana melihat seseorang yang bersama Nino. Seperti ia tak asing
dengan mukanya. Itu adalah teman yang suka mengejeknya. Namanya Dana. Dana
adalah orang yang tadi mengejek Daiana saat Diana menjatuhkan tumpukan buku.
Sontak Diana kaget. Dieno menyapa Nino.
“eh, kakak sama Diana! Kenalin kak,
dek, ini adeknya temen aku yang tadi aku ceritain. Namanya Dana”
Dengan muka malu dan memerah, Dana
berjabat tangan dengan Diana dan Dieno.
“eh, Dana. Kamu adeknya temennya
kakakku toh. Aku malah baru tahu lho. Hi Dan” sapa Diana pada Dana.
“ehmm, eh, iya” dengan sedikit
gugup, Dana menjawab.
“oh, kalian udah saling kenal to.
Begus deh”
“iya kak, Dana ini temen satu
kelasku. Dia baik lho kak.”
“yuk kita ngobrol di dalem aja.”
“yuk.!”
Setelah mereka masuk dan duduk,
Diana memulai pembicaraan.
“Dan, emang rumahmu dimana?”
“di deket sini aja kok” jawab Dana
singkat.
Setelah sedikit lama berbincang,
Deino mengajak Diana untuk pulang. “ya udah. Kita duluan ya No. Ayo Dek” ajak
kak Dieno yang sedari tadi menunggu mereka selesai bicara.
“oh, iya kak. Ayo”
Pyur...... secara tidak sengaja,
Diana menumpahkan segelas minuman Dana yang membasahi baju Dana.
“aduh, sorry Dan!”
“eh, nggak papa kok” dengan menahan
sedikit amarah, Dana menjawab.
Cepat-cepat Diana mengambil tisu dan
membersihkan baju Dana. Setelah itu, Dieno dan Diana meninggalkan Dana dan Nino
yang meneruskan obrolan.
###
Setelah pagi menjelang, Diana
menjadi canggung dan tidak PD untuk masuk sekolah karena kesalahannya kemarin.
Ia berfikir, bagaimana jika Dana
menceritakan kejadian kemarin? Bagaimana jika teman-teman sekelas Diana sedang
membicarakannya? Bagaimana jika teman-temannya semakin tidak suka dengan Diana?
Diana mulai berfikiran negatif yang membuat dirinya sendiri semakin
canggung masuk kelas.
Saat memasuki pintu gerbang, Diana
tidak langsung menuju kelas. Diana menunggu bel masuk kelas dengan membaca buku
di perpustakaan. Di perpustakaan, Diana menulis motivasi untuk dirinya sendiri
di buku apresiasinya. Lebih tepatnya, buku Diary.
Bel berbnyi dengan kerasnya hingga
mengagetkan Dia. Diana segera memasuki ruang kelas. Tempat duduknya sudah
ditempati. Ia lalu duduk di pojok belakang. Meja sebelahnya, Dana. Diana
berjalan dan tidak memperhatikan Dana. Diana masih merasa bersalah sekali
setelah kejadian kemarin.
Hari ini terdapat pelajaran PPKn.
Guru menyuruh membuat sebuah kelompok. Ketua kelas menuju depan kelas dan
menulis semua kelompok yang sudah dibaginya. Diana sekelompok dengan Dana.
Biasanya Dana selalu mengeluh dan menolak. Tetapi, anehnya hari ini malah Dana
bersikap biasa saja.
Anggota kelompok berjumlah empat
orang. Yaitu Diva, Diana, Dana, dan Gina, teman Diana yang termasuk kategori
siswa eksis berorganisasi. Dua orang dari setiap kelompok, disuruh ke
perpustakaan untuk meminjam beberapa buku referensi. Diva dan Gina bersedia.
Dikelas, Diana semakin canggung dan malu. Diana canggung karena tinggal mereka
berdua. Diana memulai pembicaraan.
“Eh, em, Dan, maaf soal kemarin ya.”
“ya. Gak papa kok. Yaudah, lupain
aja. Sejak kejadian kemarin, aku sadar bahwa seburuk-buruk manusia, ia tetap
yang terbaik. Kamu adalah orang yang baik banget. Diana, apapun kesalahan kamu,
sekarang nggak usah khawatir. Aku akan selalu ngebela kamu. Kalo nggak ada kamu
dan kakak kamu, aku sama kakakku nggak akan bisa makan dan uang buat bayar
kos-kosan kakakku. Yang penting, kita nggak akan melakukan kesalahan itu dan
memperbaikinya aja. Nggak usah difikirin. Kesalahan nggak selalu berujung
kebencian. Justru kita harus menjadikan kesalahan sebagai pengalaman yang bisa
memberi pengetahuan dan perbaikan. Ya udah, sekarang kita ngerjain soal ini
sebisa kita aja.”
“aku nggak nyangka lho. Kamu bijak
banget. Makasih Dana, udah ngasih aku motivasi” dengan muka berbinar-binar,
Dana menerima pujian Diana.
“yeee.... baru nyadar sekarang? oke,
sekarang berarti kita teman ya.” Sambil mengunjukkan kelingkingnya, Dana
mengatakan ajakannya.
“oke.” Dianapun membalas ajakan
Dana. Diana mengunjukkan kelingkingnya.
###
Siang
yang cerah dengan sedikit awan mendung yang menyelimuti, seperti menggambarkan
raut wajah Diana yang senang karena bahagia dan sedikit sedih karena sudah
rindu kepada orang tuanya. Ia ingin cepat-cepat pulang untuk belajar dan
melewati hari ini agar cepat menuju hari esok.
Diana
kaget ketika ia mendapati orangtuanya yang sedang menunggunya dari tadi. Dengan
perasaan sedikit beramarah karena tidak diberi kabar bercampur dengan rasa
ceria, Diana memeluk kedua orang tuanya.
“mamah! Kok ada disini? Kapan mamah
nyampe Jogja?”
“itu tadi, yaudah kita pulang yuk!
Tu dah ditunggu papah di mobil. Tapi, sebelum itu, kita jemput kak Dieno dulu
ya! Soalnya, kak Dieno, tadi berangkat Cuma pake angkot. Yuk!” dengan senyum
yang manis, Ibu Diana mengajak Putri kesayangannya itu pulang.
Setelah sampai kampus, Ibu Diana
menyuruh Diana untuk memanggil kakaknya. Dianapun mencari-cari ruang kelas
kakaknya itu. Diana melihat sosok kakaknya di kantin sekolah. Diana langsung
menghampiri pemuda yang sendrian itu.
“kak!”
Dieno menengok. “oh, Diana. Kok
Disini?”
“mamah nyuruh aku manggil kakak. Yuk
pulang!” ajak Diana.
“Dieno. Tunggu!” seorang Gadis
berwajah imut mendatangi Dieno.
“eh Aya. Ada apa?” jawab Dieno
singkat.
“aku boleh main kerumahmu nggak
besok? Sama temen-temen juga. Boleh?”
“iya aja kak! Bagian dari PD lho.”
Ejek Diana
“oke. Nggak papa kok!” jawab Dieno.
Gadis yang bernama Aya itupun pergi
meninggalkan kaka beradik itu. “ye. Ngejek banget sih kata-kata lu.” Omel Dieno
pada Diana.
“jadi, sekarang kakak udah nggak
menjauh? Cie, yang sekarang udah punya banyak temen. Aku juga udah baikan lho
kak sama temen aku. Namanya Dana. Yang kemaren ketemu.”
“emang di sekolah kalian nggak akur
ya?”
“sebenernya, iya. Soalnya pasti kalo
dideket dia, aku ngelakuin kesalahan. Sekarang Dia dah baikan sama aku.
Ternyata, Dia orangnya baiiik banget”
“lebai kamu. Yaudah ah, yuk! Dah
ditunggu mamah sama papah kan?”
“kok kakak tahu? Curang nih. Jadi
cuman aku yang nggak tahu mereka dah sampe Jogja tadi pagi?”
“hehe, iya. Lagian kan juga kamu
nggak bawa HP pas sekolah. Jadi kamu nggak tahu deh”
“iya deh. Aku kalah. Lebih tepatnya
sih, ngalah. Hehe”
“yeee.”
Sesampainya dirumah, Diana
mendapatkan telefon dan Dia mendapat kabar gembira. Diana mendapatkan hadiah
dari lombanya karena dia menang juara dua. Ditambah lagi, cerpen karyanya
termuat dalam majalah yang mengadakan lomba. Semua keluarga Diana menyalami
Diana. Mereka bangga mempunyai anggota keluarga yang bisa mengharumkan nama
keluarga.
Keesokan harinya, semua teman-teman
Diana termasuk Dana menyalami dan menyelamati Diana karena telah menang lomba.
Semua guru yang mengajar kelasnya juga tak lupa menyelamati Diana karena telah
mengharumkan nama sekolahnya. Diana sekarang tidak lagi canggung untuk
menghadapi kenyataan hidupnya. Kebahagiaan Diana menjadi sempurna jika ditambah
dengan kehadiran orang tuanya dan kebersamaannya dengan teman-temannya. Diana
sadar bahwa kesalahan bukanlah penghambat untuk masa depan. Kita hanyalah cukup
memperbaiki dan tak melakukannya lagi. Dan, dibalik cobaan, selalu ada skenario
Indah dari Tuhan. Juga nasib, yang sebenarnya menentukan Tuhan tetapi kita
harus menyikapinya dengan baik dan selalu menyukurinya.
Langganan:
Postingan (Atom)

